Danantara, Motor Penggerak Investasi Pemerintah

BERITA TERBARU

Oleh: Bara Winatha*)

Pemerintah terus memperkuat strategi investasi nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus membangun fondasi perekonomian yang produktif dan berkelanjutan. Dalam strategi tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara ditempatkan sebagai salah satu instrumen penting untuk mengakselerasi investasi pada sektor strategis, memperkuat hilirisasi, serta membuka peluang pembiayaan bagi proyek-proyek yang memiliki nilai tambah tinggi. Peran tersebut menjadi semakin penting ketika pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027 dan membutuhkan dukungan investasi dalam skala besar.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan investasi akan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi pada 2027. Pemerintah tidak dapat mengandalkan belanja negara semata sehingga diperlukan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga keuangan, serta Danantara untuk meningkatkan kapasitas investasi nasional. Dalam kerangka tersebut, pemerintah berupaya menciptakan sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan investasi agar modal yang tersedia dapat diarahkan kepada kegiatan ekonomi produktif. Purbaya juga menyampaikan bahwa percepatan investasi harus disertai dengan stabilitas ekonomi makro agar dunia usaha memperoleh kepastian dalam mengambil keputusan ekspansi.

Target tersebut menunjukkan bahwa Danantara diarahkan menjadi penggerak investasi pemerintah yang mampu mempercepat mobilisasi modal menuju sektor-sektor strategis. Kebutuhan investasi nasional pada 2027 diperkirakan mencapai Rp8.705 triliun, sementara kapasitas APBN hanya sekitar Rp459 triliun atau 5,2 persen dari total kebutuhan. BUMN, termasuk Danantara, diperkirakan menyumbang sekitar Rp330 triliun atau 3,8 persen. Dengan demikian, sebagian besar kebutuhan investasi, sekitar Rp7.973 triliun atau 91 persen, tetap harus berasal dari sektor swasta.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa Danantara dapat memainkan fungsi tersebut melalui pengelolaan aset, pengembangan proyek strategis, serta penciptaan skema investasi yang mampu mempertemukan kebutuhan pembangunan dengan sumber pembiayaan. Target investasi Danantara sebesar Rp1.200 triliun pada 2027 juga menjadi gambaran mengenai besarnya peran yang diharapkan pemerintah dari lembaga tersebut dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah juga terus menjaga kondisi ekonomi agar investasi dapat berkembang secara berkelanjutan. Pengendalian inflasi, pengelolaan fiskal, stabilitas nilai tukar, serta dukungan kebijakan moneter menjadi bagian dari upaya memberikan kepastian kepada pelaku usaha. Pemerintah juga menyiapkan reformasi fiskal melalui efisiensi belanja, refocusing anggaran, serta pengalokasian sumber daya kepada kegiatan yang memiliki dampak ekonomi lebih besar. Stabilitas tersebut menjadi fondasi penting agar investasi Danantara maupun investasi swasta tidak berjalan secara sporadis, tetapi membentuk ekosistem pertumbuhan yang berkelanjutan.

Di sisi lain, keberhasilan strategi investasi pemerintah juga perlu dilihat dari kualitas modal yang masuk ke Indonesia. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede mengatakan tantangan Indonesia bukan sekadar mendatangkan dana dalam jumlah besar, tetapi memastikan investasi yang masuk memiliki karakter jangka panjang. Arus modal yang bersifat sementara atau hot money relatif mudah berpindah ketika terjadi perubahan sentimen pasar global. Kondisi tersebut dapat meningkatkan volatilitas dan belum tentu memberikan dampak maksimal terhadap kapasitas produksi nasional.

Pandangan tersebut menjadi relevan dalam pengembangan peran Danantara. Lembaga ini dapat diarahkan untuk mendorong pembiayaan jangka panjang atau cold money yang masuk ke proyek infrastruktur, industri, hilirisasi, energi, dan berbagai sektor strategis lainnya. Dengan demikian, investasi yang dimobilisasi tidak berhenti pada transaksi finansial, tetapi menghasilkan aset produktif yang memperkuat perekonomian Indonesia.

Peran Danantara juga semakin luas karena pemerintah tidak hanya membidik investasi pada sektor konvensional, tetapi mulai mengarahkan perhatian kepada ekonomi digital, teknologi, inovasi, energi terbarukan, dan industri masa depan. Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan P. Roeslani mengatakan pemerintah menyiapkan berbagai insentif untuk menarik investasi berkualitas, termasuk insentif pajak hingga 300 persen bagi perusahaan yang melakukan penelitian dan pengembangan di Indonesia. Pemerintah juga menawarkan insentif hingga 200 persen bagi perusahaan yang memberikan perhatian besar terhadap pelatihan dan pendidikan vokasi.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa investasi pemerintah mulai diarahkan untuk membangun kemampuan ekonomi nasional dalam jangka panjang. Insentif R&D dan pendidikan vokasi bukan sekadar fasilitas bagi investor, tetapi juga instrumen untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kapasitas inovasi domestik. Dengan pendekatan tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi lokasi produksi atau pasar konsumen, tetapi mampu berkembang menjadi pusat inovasi dan teknologi di kawasan.

Rosan mengatakan peluang investasi masa depan juga terbuka lebar pada infrastruktur digital dan energi hijau. Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai 360 miliar dolar AS pada 2030, sementara potensi energi terbarukan nasional mencapai sekitar 3.600 gigawatt. Kapasitas energi terbarukan yang telah terpasang saat ini masih sekitar 15,1 gigawatt sehingga ruang pengembangannya masih sangat besar. Kondisi ini memberikan peluang bagi Danantara untuk ikut mengembangkan proyek yang mempertemukan kebutuhan digitalisasi dengan ketersediaan energi bersih.

Selain itu, Danantara mendukung pipeline nasional waste to energy di lebih dari 30 lokasi dengan nilai investasi sekitar 5 miliar dolar AS. Pengembangan sektor tersebut memperlihatkan bahwa investasi dapat diarahkan untuk menyelesaikan persoalan pembangunan sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru. Pengolahan sampah menjadi energi, pengembangan pusat data, energi terbarukan, dan teknologi masa depan dapat menjadi contoh bagaimana investasi diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus meningkatkan produktivitas nasional.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *